Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
  • Selasa, Juni 23, 2015
  • Admin Blog
Di sebuah negara seperti Singapura di mana ada sejumlah besar umat Islam, Persiapan Hari Raya terlihat dari sekitar satu bulan sebelum festival. Geylang Serai, tempat di mana umat Islam berkumpul selama bulan Ramadhan, ada Bazaar yang ramai sehingga Ramadhan menjadi meriah.

Pada malam hari tempat menyala dengan lampu berkilauan. Sebagian besar Muslim pergi di sini untuk membeli makanan untuk membawa pulang untuk makan ketika mereka diperbolehkan untuk berbuka puasa.



Seperti di lansir officeholidays.com Selama Ramadhan Wanita mulai menjahit gorden yang indah dan membeli baju baru untuk keluarga, Beberapa keluarga juga melakukan renovasi sehingga rumah mereka akan terlihat lebih baik ketika ada tamu berkunjung selama festival. Setelah memenuhi satu bulan mereka puasa, umat Islam merayakan Hari Raya Puasa. Pada pagi hari festival, Kaum Muslim memakai pakaian baru, dan pergi ke masjid untuk melaksanakan Sholat Iedul Fitri. Mereka menawarkan terima kasih mereka kepada Allah dan setelah itu mereka akan meminta pengampunan dari orang tua mereka.

Mereka merasa bahwa meminta maaf dari orang tua mereka adalah ritual penting. Pada hari itu, mereka juga mengunjungi kerabat dan teman-teman mereka untuk merayakan bahagia. Jika Anda mengunjungi rumah-rumah Muslim di Hari Raya Puasa Anda dapat mengharapkan untuk mencicipi berbagai hidangan pedas lezat. Beberapa hidangan favorit yang dapat ditemukan di rumah-rumah Muslim di Singapura adalah ketupat, lontong, nasi padang dan daging sapi rendang. Kaum Muslim juga memiliki kebiasaan memberikan paket uang untuk anak-anak.


  • Minggu, Juni 21, 2015
  • Admin Blog
Puasa “Saumu” menurut bahasa Arab adalah “menahan diri dari segala sesuatu” seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebaganinya. Menurut istilah Agama Islam yaitu “menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat”. Seperti Firman Allah SWT. Yang artinya “ Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah:187). Rasulullah SAW. Bersabda  yang artinya “ dari Ibnu Umar. Ia berkata,”Saya telah mendengar Nabi Besar SAW. Bersabda “Apabila malam dating, siang lenyap dan matahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah dating waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim)

Puasa Ada Empat Macam
  • 1.      Puasa Wajib, yaitu puasa Bulan Ramadhan, puasa Kafarat, dan puasa Nadzar.
  • 2.      Puasa Sunat.
  • 3.      Puasa Makruh
  • 4.      Puasa Haram, yaitu puasa hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Haji dan tiga hari sesudah Hari Raya Haji, yaitu tanggal 11,12 dan 13.

Puasa Bulan Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam yang Lima, diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, yaitu tahun kedua setelah Nabi Muhammad SAW. Hijrah ke Madinah. Hukumnya Fardu ‘Ain  atas tiap – tiap Mukallaf (Baligh dan Berakal).
Firman Allah SWT. Yang artinya “ Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa ( yaitu) dalam beberapa hari tertentu”. (QS: Al-Baqarah: 183-184)

Rasulullah SAW. Telah mengerjakan puasa Sembilan kali Ramadhan, delapan kali 29 hari, satu kali pas 30 hari. Beliau berkata dalam Hadist Bukhari, “Bulan itu kadang-kadang 30 hari, kadang-kadang 29 hari.” Sabda Rasulullah SAW. Yang artinya : “Islam itu di tegakkan diatas 5 dasar : (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak (Patut di Sembah) kecuali Allah SWT, dan bahwasanya Nabi Muhammad SAW. Adalah utusan Allah SWT, (2) Mendirikan Sholat 5 Waktu, (3) membayarkan Zakat, (4) mengerjakan Haji ke Baitullah (5) berpuasa pada bulan Ramadhan”. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad)

Puasa Ramadhan diwajibkan atas tiap-tiap orang Mukallaf dengan salah satu ketentuan ketentuan berikut ini :
  • 1.      Dengan melihat Bulan bagi yang merlihatnya sendiri.
  • 2.    Dengan mencukupkan bulan Sya’ban tiga puluh hari, maksudnya Sya’ban tidak terlihat, tentu kita tidak dapat menentukan hitungan sempurnanya 30 hari.
  • 3.      Dengan adanya melihat (ru-yat) yang dipersaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.
  • 4.   Dengan kabar Mutawatir, yaitu kabar orang banyak, sehingga mustahil mereka akan dapat sepakat berdusta atau sekata atas kabar  yang dusta.
  • 5.      Percaya kepada orang yang melihat.
  • 6.    Tanda tanda yang biasa dilakukan di kota-kota besar dan memberitahukan kepada orang banyak (umum) seperti lampu meriam dan sebagainya.
  • 7.      Dengan ilmu hisab atau kabar dari ahli hisab (ilmu bintang).

  • Selasa, Mei 26, 2015
  • Admin Blog
Hakikat manusia bukan hanya pada kulit muka yang terbuat dari tanah, yakni daging, darah dan tulang, tetapi lebih pada kelembutan Rabani yang dengannya manusia merasa, beremosi, bereaksi, merasa sakit, dan mengasihi, yaitu hati yang peka. Di antara sifat Mukmin yang paling menonjol adalah bahwa ia memiliki hati yang peka, halus, lembut, dan penuh kasih. Dengan hati seperti inilah, seorang Mukmin menyikapi semua kejadian dan setiap orang. Orang lemah ia sayangi, kepada orang sakit ia berempati, orang miskin ia santuni, dan orang tak punya ia bantu. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, tak pernah ia menyakiti dan jauh dari berbuat onar. Dengan hatinya yang peka dan penuh kasih, ia menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kedamaian bagi apa saja dan siapa saja yang ada di sekitarnya. 


Seorang Mukmin memiliki hati yang penyayang. Semboyan hidupnya adalah takhalluq bî akhlâq Allâh(berupaya meneladani akhlak Allah) dan memiliki bagian dari nama-nama-Nya yang baik (al-asmâ` al-husnâ). Di antara akhlak Tuhan yang paling nampak adalah al-rahmah (kasih sayang) yang meliputi segala sesuatu, mencakup Mukmin dan kafir, yang baik dan yang jahat, serta meliputi dunia dan akhirat. Dan di antara nama Allah yang paling menonjol adalah al-rahmân al-rahîm (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Kedua nama ini merupakan nama paling masyhur setelah nama Allâh. Seorang Mukmin, setiap kali membaca al-Qur`an atau memulai satu surat al-Qur`an pasti memulainya dengan membaca: بسم الله الرحمن الرحيم (dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Dua nama ini juga disebut dalam salat-salat fardu tidak kurang dari 34 kali sehari. Belum lagi kalau ditambah salat sunnah, tentu dua nama ini lebih sering lagi diulang.
Yang jelas, dua nama ini memiliki pengaruh yang kuat dalam jiwa seorang Mukmin. Di samping bahwa dua nama ini mengharuskannya melakukan ibadah dan pengabdian kepada Allah, keduanya juga mendorongnya meneladani nama-nama-Nya terutama rahmân rahîm-Nya.

Di antara upaya hamba meneladani ke-rahmân-Nya adalah mengasihi hamba-hamba-Nya yang lalai dengan memalingkan mereka dari jalan kelalaian ke jalan Allah dengan memberi mereka nasihat dan wejangan dengan penuh kelembutan; memandang para pelaku kemaksiatan dengan pandangan kasih sayang bukan dengan pandangan kebencian; melihat setiap kemaksiatan yang terjadi di bumi seakan kemaksiatan yang terjadi pada dirinya sehingga ia terpacu untuk menghentikannya sekuat tenaga. Ini dilakukannya atas dasar kasih kepada para pelaku kemaksiatan agar mereka tidak mendapatkan kemurkaan Allah dan tidak semakin jauh dari-Nya.

Di antara upaya hamba meneladani ke-rahîm-Nya adalah dengan tidak membiarkan orang yang membutuhkan melainkan membantunya sekuat tenaga, tidak menelantarkan orang miskin melainkan bangkit menutupi kemiskinannya dengan hartanya atau pun dengan kedudukan sosialnya, atau jika tidak mampu menolong dengan harta dan kedudukannya, sekurangnya membantu dengan doa dan berempati dengan menunjukkan kesedihan serta duka cita.

Seorang Mukmin sadar bahwa dirinya selalu membutuhkan rahmat Allah. Dengan kasih sayang ilahiah ini ia hidup di dunia dan beroleh kebahagiaan di akhirat. Namun ia juga yakin bahwa kasih sayang Allah tidak dapat diraih kecuali dengan kasih sayang manusia. “Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang saling menyayangi.” “Orang yang tidak menyayangi tidak akan disayangi.” “Sayangilah makhluk yang ada di bumi maka makhluk yang ada di langit akan menyayangimu.”
Kasih sayang seorang Mukmin tidak hanya untuk saudara-saudara Mukminnya saja, melainkan bagi seluruh umat manusia. Kepada para sahabatnya Nabi Saw. bersabda: “Kalian tidak akan beriman sampai kalian menyayangi.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, setiap kami adalah penyayang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya bukan kasih sayang seseorang kepada sahabatnya (saja) melainkan kasih sayang bagi semua” (HR. Thabrânî). Di antara sifat kaum Mukmin disebutkan dalam al-Qur`an:
وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
Dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang (QS. al-Balad/90: 17).
Bahkan kasih sayang seorang Mukmin bukan hanya untuk sesama manusia yang berakal tetapi juga bagi hewan tak berakal. Ia sadar bahwa dirinya bertanggung jawab di hadapan Tuhannya atas hewan-hewan tak berakal itu. Kepada para sahabatnya Nabi Saw. menyatakan bahwa pintu surga dibukakan bagi seorang wanita pelacur yang memberi minum seekor anjing lalu Allah mengampuninya karenanya, dan bahwa pintu neraka dibukakan bagi seorang wanita yang mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan sampai kucing itu mati. Jika balasan bagi orang yang mengurung seekor kucing tanpa alasan adalah seperti itu, maka gerangan apa balasan bagi orang yang mengurung puluhan ribu anak manusia tanpa alasan yang benar?
Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, aku menyayangi kambing ketika aku menyembelihnya.” Nabi bersabda: “Jika kamu menyayanginya maka Allah menyayangimu” (HR. al-Hâkim). ‘Umar pernah melihat laki-laki menyeret kambing dengan kakinya sebelum ia menyembelihnya. ‘Umar berkata kepadanya: “Celakalah kau…bunuhlah kambing itu dengan cara yang baik!”

 * DR. H. Abad Badruzzaman
  • Selasa, Mei 26, 2015
  • Admin Blog
Kebahagiaan didamba setiap orang. Tidak ada orang yang tidak ingin hidupnya bahagia. Semua berusaha keras agar hidupnya bahagia. Tetapi apa sesungguhnya sumber kebahagiaan itu? Jawaban atas pertanyaan ini ternyata sangat beragam. Ada orang yang melihatnya pada tumpukan harta yang melimpah. Orang yang mengukur kebahagiaan dari harta benda akan berusaha keras mengejar dan mencari harta sebanyak-banyaknya. Mereka mengira kebahagiaan terletak pada kekayaan, kesenangan hidup, kelimpahan harta dan tercukupinya segala kebutuhan materi. Apakah ketika harta telah melimpah, kebahagiaan hidup akan mereka raih?
Nampaknya, kebanyakan manusia mencari kebahagiaan bukan pada tempatnya. Mereka ibarat kembalinya orang yang mencari mutiara di padang sahara; kembali dengan tangan kosong, badan lelah, jiwa tersiksa dan harapan terputus.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzî, dikatakan: Barangsiapa akhirat menjadi tujuannya maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan kekuatan baginya dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah. Dan barangsiapa dunia menjadi tujuannya maka Allah akan menjadikan kemiskinan di hadapan matanya, melemahkan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Pecinta dunia akan selalu ditemani tiga hal: keinginan yang tiada henti, rasa lelah yang tak pernah sirna, dan kesedihan yang tak pernah reda. Dalam sebuah hadis disebutkan: ”Seandainya seseorang memiliki dua lembah emas, pasti dia akan mencari yang ketiga.” Kebahagiaan bukan terletak pada gelimangan harta, tingginya jabatan, banyaknya keturunan, atau diraihnya keuntungan materi. Kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat maknawi; tidak terlihat oleh mata, tidak dapat ditimbang dengan timbangan, tidak dapat disimpan dalam gudang, dan tidak dapat dibeli dengan uang. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan seseorang dalam dirinya berupa kebeningan jiwa, kedamaian hati, kelapangan dada dan ketenangan nurani. Kebahagiaan tumbuh dari dalam diri manusia, tidak didatangkan dari luar dirinya.

Memang tidak dapat disangkal bahwa aspek materi memiliki andil dalam mewujudkan kebahagiaan hidup. Rasul Saw. sendiri pernah bersabda: ”Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istri salehah, tempat tinggal yang layak, dan kendaraan yang layak”(HR Ahmad). Namun andil ini bukan yang utama dan tidak besar. Yang jadi ukuran pada aspek ini adalah al-kayf (kualitas), bukan al-kam (kuantitas). Cukuplah menjadi kebahagiaan bagi seseorang apabila dalam hidupnya ia terbebas dari kesempitan-kesempitan materi yang menyesakkan dada, seperti istri yang durhaka, tempat tinggal dan kendaraan yang tidak layak; dan dikaruniai rasa aman, kesehatan serta dimudahkan mendapatkan bahan pangan. Betapa indah dan benar hadis Nabi yang mengatakan: ”Barangsiapa bangun pagi dalam keadaan tenang jiwanya, sehat badannya, dan memiliki bahan pangan yang mencukupi harinya, maka seakan-akan dunia beserta isinya adalah miliknya”(HR al-Bukhârî).
Jika jiwa dan hati merupakan lahan tempat tumbuh pohon kebahagiaan, maka iman kepada Allah dan hari akhir merupakan air, pupuk, udara dan cahaya yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan kehidupan pohon itu. Iman memancarkan sumber-sumber mata air kebahagiaan dalam hati. Tidak akan terwujud kebahagiaan tanpa sumber-sumber mata air itu, yaitu ketenangan, kedamaian, harapan, keridhaan, dan cinta.
* DR. H. Abad Badruzzaman

Unordered List

Sample Text

Media JEMPOL. Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini

Entri Populer

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget